April 06, 2013

Bob Sadino: Miliarder yang Bercelana Pendek

Yola: Bob Sadino, Sosok yang sederhana dengan segala keluguannya mampu menginspirasi setiap orangYola: Bob Sadino, Sosok yang sederhana dengan segala keluguannya mampu menginspirasi setiap orangTahukah anda jika ayam pedaging yang kita konsumsi selama ini dulunya digagas oleh seorang Bob Sadino? Bob Sadino adalah seorang wirausahawan yang sukses di bidang pertanian dan perternakan. Beliau bukanlah seorang professor yang bergelimangan gelar, beliau malah putus kuliah pada bulan ketiga dan tidak melanjutkannya lagi. Beliau beranggapan bahwa kuliah itu hanya sekedar tahu, dalam artian hanya berkutat di lingkungan kampus saja. Beliau juga menegaskan bahwa kuliah tidak bisa berkembang jika tidak terjun langsung ke masyarakat atau beliau menyebutkan dengan ilmu jalanan.
 Bagi beliau, ilmu jalanan itu sangat berharga melebihi ilmu di kampus karena ilmu jalanan adalah pendidikan yang sebenarnya. Dimana kita dapat menemukan berbagai permasalahan yang real. Beliau bukan secara terang-terangan menentang sistem pendidikan, tetapi bagi beliau, terjung langsung ke masyarakat itu yang paling penting. “Misalnya sarjana pertanian, dia hanya belajar ilmunya saja, tetapi dia tidak pernah terjun langsung ke sawah untuk belajar mencangkul”, tandas beliau. Dengan prinsip hidupnyalah yang mengantarkan beliau ke jenjang kesuksesannya. Salah satu kunci kesuksesannya adalah freedom. Lakukan apa yang ingin anda lakukan dengan bebas dan jangan ragu. Beliau berkata jika orang pandai itu terkadang tidak bisa sukses, karena terlalu banyak mikir. Tidak konsisten untuk maju, terlalu memikirkan untung ruginya. Orang bodoh biasanya lebih berani dibanding orang pintar, karena orang bodoh sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang pintar telalu banyak pertimbangan.

Bob menuturkan bahwa 0,18% dari jumlah penduduk Indonesia adalah usahawan. Angka ini sangat minim sekali jika dibandingkan dengan Singapura yang 2,4% penduduknya adalah usahawan. Padahal dengan berentrepreneur, seseorang akan menjadi pribadi yang mandiri. “Sumber daya alam terbentang luas. kita bersyukur Indonesia alamnya subur dan kaya, tapi SDM Indonesia yang kurang mampu memanfaatkannya,” tandas pria yang pertama kali mencetuskan penanaman melon dan brokoli ini.

Selama hidupnya, orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di Indonesia ini mampu menarik perhatian dari para petinggi negara. Beliau sering dikunjungi oleh para presiden yang menjabat, seperti Soeharto, Megawati dan SBY. Kebanyakan orang, jika menemui orang penting, selalu berusaha berpenampilan oke, dan memakai pakaian yang rapi. Hal itu bertentangan dengan Bob Sadino yang tidak sungkan-sungkan untuk tetap bercelana pendek ketika menghadap orang-orang nomor satu di Indonesia tersebut. Seolah-olah celana pendek itu merupakan ciri khas yang melekat pada dirinya. Pernah pada saat ia diundang ke gedung DPR, ia tetap saja menggunakan celana pendek dengan santainya, dan ia pernah ditegur oleh salah seorang Staf untuk berpakaian rapi. Ada orang yang bilang, “Anggota DPR kan pakai baju dinas karena uang negara, lah kalau pak Bob pakai “baju dinasnya” pakai uang sendiri”. Saya sendiri sampai tertawa mendengar pernyataan beliau. 

 Saya sangat terkagum-kagum dengan sosok Bob Sadino. Saya juga merenungi setiap kata-kata yang penulis dengar dari Bob Sadino. Sosok yang sederhana dengan segala keluguannya mampu menginspirasi setiap orang. Selama Saya menonton beliau di layar kaca, penulis terkagum-kagum dengan gaya bicara beliau. Meskipun beliau putus kuliah, tetapi intelektualitas terpancar jelas di wajahnya. Saya sebelumnya tidak menyadari kalau memang beliau bukan sarjana. Jadi Saya dapat menyimpulkan bahwa, pendidikan formal yang sangat tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang. Terjun di lapangan langsung itulah yang terpenting. Lebih bagus lagi jika kita dapat mensinergikan keduanya. Entrepreneurship bisa dipelajari dimana saja, terutama di lingkungan sekitar yang sangat luas. Dengan entrepreneurship kita bisa mengembangkan ide-ide kita secara liar dan bebas, tidak bergantung pada ilmu-ilmu yang disediakan di bangku pendidikan formal. Untuk strateginya, kita perlu berfikir untuk melakukan sesuatu yang ekstrim dan kontroversial yang bisa menyedot animo masyarakat. Saya jadi pengen berwirausaha nih. Hhehe

sumber; kompasina

Saatnya Dai Juga Jadi Pengusaha


Jakarta - Pemberdayaan ekonomi bisa berbasis apa saja, termasuk pesantren. Untuk itu dicetuskanlah program 'Dai Preneur' bagi para ustadz dan santri.

Kuliah perdana 'Dai Prenuer' yang digagas Dompet Dhuafa dan diluncurkan pada Senin (23/8) ini diikuti ustadz dan santri yang berjumlah 90 orang dari 30 pesantren di Cianjur, Tangerang, Bekasi, Jakarta, Bogor, dan Suikabumi

Direktur Program Ekonomi Dompet Dhuafa Abdul Aziz menjelaskan tujuan dari program tersebut adalah untuk membentuk kader dai yang memiliki jiwa entrepreneur. "Acara ini sebagai program pemberdayaan para dai pada fungsi ekonomi," ujar Abdul Aziz saat launching 'Dai Preneur' di Blok M Square, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (23/8/2010).

Program ini merupakan suatu aktivitas dalam upaya menumbuhkan potensi kelembagaan masyarakat yaitu pesantren untuk terlibat langsung dalam upaya pengentasan kemiskinan dan melakukan pembinaan masyarakat di sekitarnya. Rencananya, setelah Ramadan juga akan terus digelar acara serupa.

Melalui program tersebut diharapkan akan lahir sosok-sosok seperti Utsman bin Affan dan Abu Bakar ash-Shiddiq yang merupakan dai sekaligus juga pengusaha dan dermawan. Implementasi program yang dilakukan meliputi 3 fase yaitu tahap penumbuhan dan pembentukan kelompok, tahap penguatan, dan tahap pelepasan program.

Usai launching 'Dai Preneur' dilanjutkan dengan kuliah perdana yang diisi oleh pengusaha Bob Sadino. Dalam kuliahnya Bob menyampaikan syarat-syarat untuk menjadi pengusaha. Syarat-syaratnya adalah, seorang pengusaha tidak perlu tujuan dan rencana, bebas dari cara pikir yang terbelenggu, bebas dari pikiran yang pesismistis, dan sebaiknya jangan banyak mengharap."Anda punya harapan? Ada berapa harapan yang berhasil direalisasikan?" tanya Bob kepada audienc

Mendengar pertanyaan itu, para peserta hanya diam, sehingga Bob kembali angkat suara.
"Nggak ada kan (yang terealisasi)? Jadi jangan banyak mengharap, dikerjakan saja," imbuh pria berkumis ini.

Bob lantas memberikan tips bagaimana caranya memulai jadi pengusaha. Menurutnya, langkah pertama adalah dengan memulai usaha yang disenangi, dan selanjutnya mulai melangkah.


"Dalam melangkah pasti ada kendala, tapi jadikan kendala itu anugerah Tuhan, jangan jadikan kekecewaan," sambungnya.


Pria yang gemar memakai celana pendek ini menyampaikan 3 unsur penting dalam memulai usaha, yakni kemauan, tekad, dan keberanian mengambil peluang. Hal yang paling penting dalam menjadi pengusaha adalah belajar bersyukur.


"Dai juga sebaiknya mencontoh Nabi Muhammad, jadi selain jadi jadi Rasul juga seorang saudagar ulung," cetus Bob.
 
Sumber: Detik Online

Bob Sadino: Jangan Takut Mencoba

BOGOR - Pengusaha sukses bidang pertanian Bob Sadino mengajak generasi muda untuk tidak takut mencoba sesuatu hal yang baru. "Ingin sukses jangan takut mencoba," kata Bob di hadapan puluhan peserta acara Launching Program CSR "Go Entrepreneur" oleh Perum Pegadaian bertempat di Mall Botani Square, Sabtu (27/3).

Menurut Bob, kunci sukses adalah tidak mudah menyerah dan jangan takut untuk gagal. "Dengan kegagalan kita bisa belajar, bagaimana ke depan lebih baik lagi. Jadi, jangan pernah takut untuk gagal," kata entrepreneur sukses asli Indonesia ini.
Di hadapan ratusan pengunjung Mall Botani Square, Bob yang tampil dengan gaya khasnya baju kemeja putih kotak-kotak dipadu celana jins pendek menyampaikan beberapa pengalamannya tentang memulai sebuah usaha tanpa harus menggunakan modal besar. "Yang penting ada kemauan dan berani menerima kegagalan, semua usaha jenis apa pun akan tetap jalan. Usaha yang paling bertahan lama ada agropreneur," kata Bob.

Ia berpendapat selama langit masih membentang, selama itu pula usaha perkebunan akan terus berjalan. Namun, lanjut Bob, tinggal sumber daya manusia (SDM) yang mengelolanya.


"Sumber daya alam terbentang luas, kita bersyukur Indonesia alamnya subur dan kaya, tapi SDM Indonesia yang kurang mampu memanfaatkannya," kata bapak dua orang putri ini.


Bob mengatakan, peluang bisnis pertanian cukup besar, tidak hanya pasar Internasional saja, pasar dalam negeri Indonesia juga sangat menjanjikan untuk perkembangan bisnis pertanian tersebut. Bob mengatakan semakin banyaknya minat generasi muda untuk berwirausaha dapat meningkatkan jumlah usahawan Indonesia yang saat ini hanya sebesar 1,8 persen dari total penduduk Indonesia.


Talkshow berlangsung selama satu jam lebih tersebut berlangsung cukup menarik. Sejumlah mahasiswa yang hadir dalam acara launching program CSR "Go Entrepreneur" oleh Perum Pegadaian sangat antusias bertanya kepada Bob. Dipandu oleh MC Shanaz Haque suasana talkshow kian bermakna, ditambah jawaban nyeleneh Bob yang membuat gelak tawa peserta.


Bob merupakan tokoh entrepreneurship Indonesia yang mampu merentas batas kewajaran bahwa bisnis harus dijalankan dengan kegigihan dan kerja keras. Menurut Bob, usaha dijalankan dengan kesenangan bukan karena keterpaksaan. Tidak harus cerdas dan bekerja keras untuk menjadi pengusaha sukses, menurutnya seorang pengusaha harus bisa melihat peluang dan berani mengambil risiko.


Semua telah dibuktikan oleh Bob, entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha.  Pendiri dan pemilik tunggal "Kem Chicks" (supermarket) ini pernah menjadi supir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.

Guru Perlu Miliki Jiwa Kewirausahaan


Kelemahan dalam kewirausahaan di Indonesia adalah lemahnya jiwa entrepreneurship guru.
VIVAnews - Kewirausahaan harus dimulai dengan pembinaan entrepreneurship guru pembimbing. Salah satu kelemahan terbesar dalam kewirausahaan (entrepreneurship) di Indonesia adalah lemahnya jiwa entrepreneurship guru pembimbing. 

Pengusaha Nasiona Bob Sadino mengatakan, sistem pendidikan Indoensia kebanyakan masih menggunakan prinsip belajar untuk tahu. Padahal yang lebih penting adalah melakukan sesuatu dan mengkomunikasikannya. Sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek kewirausahaan.

"Dari tiga pilar pendidikan, sistem pendidikan di Indonesia masih berputar pada teori dan buku teks saja," ujar Sadino di Jakarta, Selasa 18 November 2008.

Begitu pula halnya dengan entrepreneurship, dia mengatakan agar bisa berkembang, para pengajar harus memiliki jiwa itu terlebih dulu.


Pemilik perusahaan ritel KemChik ini memaparkan masalalaunya dalam merintis usaha. "Kita harus berani segala situasi dalam membangun bisnis. Ini merupakan perjalanan alamiah," katanya.


Dari situ, lanjut dia, bagaimana caranya menciptakan siklus bisnis yang baik dengan mengembangkan pasar dan industri.


Tak Setuju Usaha Kecil

Sadino tidak pengkotak-kotakan usaha dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Karena secara psikologis, dengan sebutan mikro kecil, pengusaha menjadi minder. Ini yang membuat Indoensia susah berkembang dbandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. "Lebih baik disebut Usaha Bakal Besar (UBB)" ujar Sadino.

Di tempat yang sama Direktur Pembainaan SMK Departemen Pendidikan Nasional Joko Sutrisno mengatakan, program SMK telah berusaha menyatukan praktek dan teori. Dalam program bisnis dan manajemen siswa dipaksa mempraktekan teori di kelas. 


Dalam APBN-P 2008, sistem pemberdayaan SMK termasuk suntikan modal kerja, mencapai Rp 20 miliar. Rp 4,2 miliar di antaranya untuk pelatihan entrepreneurship. "Sedangkan 2009 anggarannya Rp 24 miliar. Ini masih bisa ditambah," kata Joko.

Tingkatkan Pendidikan Vokasional

Bob menyebutkan sistem pendidikan yang ada sekarang ini banyak menghasilkan orang-orang yang arogan yang merasa pintar, namun tidak punya keterampilan dan kompetensi melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan untuk membuat Indonesia maju dan sejahtera.

JAKARTA, RABU- Pendidikan vokasional atau kejuruan kepada generasi muda harus diprioritaskan demi perbaikan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang mampu mengoptimalkan kekayaan alam negara ini untuk kemakmuran masyarakat.

Untuk itu, pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah mesti berubah dari yang selama ini cuma bertujuan membuat peserta didik tahu juga mengajarkan kompetensi yang memang dibutuhkan dalam kehidupan di masyarakat dan dunia kerja.

"Pendidikan di sekolah itu bukan segala-galanya sebagai faktor sukses dalam kehidupan. Perlu dipahami juga bahwa pendidikan itu jangan dimaknai secara sempit dengan belajar di sekolah saja. Ini bukan berarti kita antisekolah. Tetapi yang harus dipikirkan bersama adalah sekolah seperti apa dan bagaimana yang mampu menghasilkan orang-orang yang tahu dan bisa sehingga sistem pendidikan kita justru tidak semakin menambah jumlah pengangguran terdidik," kata pengusaha Bob Sadino di Jakarta, Rabu (27/8).

Menurut Bob yang menaruh perhatian pada pengembangan pendidikan kejuruan, spirit pendidikan yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan itu sudah tercermin dalam sekolah menengah kejuruan atau SMK. Pengembangan SMK tidak semata-mata berhenti menghasilkan tenaga kerja siap terampil yang memang dibutuhkan negara ini.

Dengan bekal keterampilan yang didapat dari pengalaman-pengalaman bersentuhan dengan kehidupan di luar dinding kelas kepada peserta didik, mereka nantinya harus mampu menjadi wirausahawan dan profesional yang dapat diandalkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Bob menyebutkan sistem pendidikan yang ada sekarang ini banyak menghasilkan orang-orang yang arogan yang merasa pintar, namun tidak punya keterampilan dan kompetensi melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan untuk membuat Indonesia maju dan sejahtera.

"Coba lihat, berapa banyak ahli dan sarjana pertanian di negara agraris ini yang justru jadi pengangguran. Ini karena mereka tidak bisa bagaimana mengerjakan pertanian itu karena sudah merasa cukup puas dengan teori-teori saja," kata Bob yang mendukung pengembangan kualitas pendidikan kejuruan lewat Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3KI).

Seperti terungkap dalam Laporan Tren Ketenagakerjaan dan Sosial di Indonesia 2008 Organisasi Buruh Internasional (ILO), sebanyak 4.516.100 dari 9.427.600 orang yang masuk kategori pengangguran terbuka Februari 2008 adalah lulusan SMA, SMK, program diploma, dan universitas.
Sementara itu, pengembangan SMK yang dilakukan Deparetemen Pendidikan Nasional terus ditingkatkan menjadi SMK bertaraf internasional. Untuk itu, investasi yang dikeluarkan jauh lebih besar, apalagi untuk sekolah kejuruan yang membutuhkan banyak praktik.